Fobia sosial merupakan gangguan kecemasan sosial yang umum terjadi sejak usia remaja dan berlanjut hingga dewasa jika tidak segera ditangani. Prevalensi seumur hidup fobia sosial sebesar 6,6-12,1%. Fobia sosial dapat menyebabkan kualitas hidup yang buruk dan lebih rentan terjadi gangguan mental lainnya sehingga diperlukan penanganan yang tepat. Individu dengan fobia sosial rentan terhadap risiko kesehatan akibat ekstrimnya tantangan yang mereka hadapi dalam interaksi sosial. Fobia sosial ditandai dengan keyakinan disfungsional tentang diri sendiri dan orang lain, perilaku aman dan menghindar, serta gejala keluhan fisik misalnya peningkatan detak jantung, kemerahan, berkeringat selama interaksi sosial. Fobia sosial memiliki ciri-ciri ketakutan yang intens dan menetap tentang dinilai buruk, dipermalukan, atau ditolak dalam situasi sosial tertentu. Gejalanya meliputi kecemasan ekstrem misalnya cemas sebelum acara atau presentasi, menghindari interaksi dengan orang lain, disertai gejala fisik seperti tubuh gemetar, jantung berdebar, mual, berkeringat dan kaku. Fobia sosial ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, sekolah atau pekerjaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fobia sosial terbagi menjadi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik antara lain (1) pengaruh genetik dan faktor biologis meskipun besar pengaruhnya masih belum jelas. (2) Terdapat hubungan antara gen dengan temperamen bawaan seseorang terutama anak-anak yang merasa cemas, takut, atau tidak nyaman saat menghadapi situasi, objek, atau orang yang tidak dikenal. Hal ini dapat meningkatkan risiko fobia sosial 8 kali lipat. Faktor ini berinteraksi dengan faktor lingkungan seperti pola asuh orang tua. (3) Kecenderungan proses kognitif seperti bias persepsi negatif, self-focus, dan behavior safety. Hal ini berperan dalam pengembangan dan pemeliharaan gejala. (4) Keterampilan sosial yang lemah berperan dalam pengembangan dan pemeliharaan fobia sosial. Faktor ekstrinsik penyebab fobia sosial antara lain (1) Hubungan dengan teman sebaya yang buruk seperti penolakan, perendahan, dan kejahatan sebaya meningkatkan risiko fobia sosial. (2) Gaya pola asuh yang terlalu melindungi dan mengontrol berisiko meningkatkan fobia sosial. (3) Peristiwa hidup yang tidak menyenangkan seperti kekerasan, pengabaian, dan masalah keluarga meningkatkan risiko fobia sosial. (4) Budaya berpengaruh terhadap ekspresi dan diagnosa fobia sosial. Gejala dan dampaknya dipengaruhi norma sosial budaya. Secara keseluruhan, perkembangan fobia sosial dipengaruhi oleh interaksi antara faktor intrinsik dan ekstrinsik secara kompleks.
Kesulitan yang terkait dengan fobia sosial akan terus berlanjut hingga dewasa apabila tidak segera diobati. Fobia sosial dapat menyebabkan gangguan yang signifikan dan dikaitkan dengan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Selain itu, fobia sosial telah dikaitkan juga dengan peningkatan kerentanan terhadap gangguan kecemasan dan gangguan mood lainnya, gangguan perilaku, serta penyalahgunaan zat. Oleh karena itu pasien dengan fobia sosial perlu mendapatkan pengobatan agar dapat kembali hidup optimal. Tatalaksana pengobatan fobia sosial dengan kombinasi terapi farmakologi dan psikoterapi mempunyai dampak yang lebih besar terhadap perbaikan gejala klinis fobia sosial. Golonganobat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) dan serotonin-norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI) direkomendasikan sebagai pengobatan farmakologi pada fobia sosial dengan bukti yang konsisten. Cognitive behavior therapy (CBT) Individual direkomendasikan sebagai intervensi psikoterapi yang terbaik pada fobia sosial.
Penulis : dr. Novalia Kuntardjo, M.Biomed, Sp. K.J. Dosen fakultas kedokteran UKSW
referensi
Schmalbach I, Witthöft M, Strauß B, Joraschky P, Petrowski K. The predictive value of cortisol in psychodynamic psychotherapy for social anxiety disorder: Extended results of the SOPHONET-Study. Transl Psychiatry. 2024;14(1):1–7.
Spence SH, Rapee RM. The etiology of social anxiety disorder: An evidence-based model. Behav Res Ther [Internet]. 2016;86:50–67. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.brat.2016.06.007
Alves F, Figueiredo DV, Vagos P. The Prevalence of Adolescent Social Fears and Social Anxiety Disorder in School Contexts. Int J Environ Res Public Health. 2022;19(19).
Mayo-Wilson E, Dias S, Mavranezouli I, Kew K, Clark DM, Ades AE, et al. Psychological and pharmacological interventions for social anxiety disorder in adults: A systematic review and network meta-analysis. The Lancet Psychiatry. 2014;1(5):368–76.
Asakura S, Yoshinaga N, Yamada H, Fujii Y, Mitsui N, Kanai Y, et al. Japanese Society of Anxiety and Related Disorders/Japanese Society of Neuropsychopharmacology: Clinical practice guideline for social anxiety disorder (2021). Neuropsychopharmacol Reports. 2023;43(3):288–309.
Hoertel N, De Maricourt P, Katz J, Doukhan R, Lavaud P, Peyre H, et al. Are participants in pharmacological and psychotherapy treatment trials for social anxiety disorder representative of patients in real-life settings? J Clin Psychopharmacol. 2014;34(6):697–703.
Mavranezouli I, Mayo-Wilson E, Dias S, Kew K, Clark DM, Ades AE, et al. The cost effectiveness of psychological and pharmacological interventions for social anxiety disorder: A model-based economic analysis. PLoS One. 2015;10(10):1–21.
Schneier, F. R. & BC. Social anxiety disorder: Comprehensive clinical psychiatry. In: Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P (Eds.), Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry. 2010.
Baldwin DS, Anderson IM, Nutt DJ, Allgulander C, Bandelow B, Den Boer JA, et al. Evidence-based pharmacological treatment of anxiety disorders, post-traumatic stress disorder and obsessive-compulsive disorder: A revision of the 2005 guidelines from the British Association for Psychopharmacology. J Psychopharmacol. 2014;28(5):403–39.
Davidson, J. R. T., & Rickels, K. Social anxiety disorder: A review of evidence-based treatments. The Journal of Clinical Psychiatry. 2000; 61(11), 20-30. 11. Bandelow, B., Michaelis, S., & Wedekind, D. Treatment of anxiety disorders. Dialogues in Clinical Neuroscience. 2017; 19 (2), 93-107.



