Kesehatan reproduksi perempuan kerap menghadapi berbagai keluhan, salah satunya adalah fluor albus atau keputihan. Kondisi ini ditandai dengan keluarnya cairan menyerupai lendir dari vagina (Agustine, 2023). Di Indonesia, sekitar 90% perempuan berisiko mengalami keputihan karena beriklim tropis, dengan angka kejadian yang meningkat hingga 70% per tahun (Eduwan, 2022). Peningkatan ini disertai dengan adanya dimana remaja usia 15–24 tahun cenderung memiliki perilaku kesehatan reproduksi yang kurang baik, sehingga berkontribusi pada tingginya kasus keputihan (Fransiska & Turiyani, 2024).
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah keputihan hanya keluhan ringan, atau justru pertanda masalah serius?
Mengapa Keputihan Tidak Boleh Dianggap Remeh?
Keputihan yang tidak ditangani dapat berujung pada masalah serius, mulai dari kemandulan, kehamilan ektopik, hingga kanker serviks (Sinulingga & Jayanti, 2024). Pada ibu hamil, keputihan abnormal dapat menyebabkan bacterial vaginosis (BV) yang berisiko menular ke janin (Sartika et al., 2025). Dampaknya dapat berupa keguguran, ketuban pecah dini, persalinan prematur, bayi berat lahir rendah, hingga peningkatan risiko HIV dan IMS (Sethi et al., 2025).
Sayangnya, banyak remaja masih memiliki kebiasaan buruk terkait perawatan organ intim. Penelitian menunjukkan (Sulianty et al., 2020):
- 52% remaja tidak melakukan pencegahan keputihan dengan baik.
- 25,7% sering memakai celana dalam ketat.
- 17,6% tidak mengeringkan genitalia setelah BAK/BAB.
- 8,2% tidak menggunakan pakaian dalam berbahan katun.
- 2,5% bahkan berbagi pakaian dalam.
Ini tentu saja menjadi faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengalami keputihan.
Kenali Keputihan Normal vs Abnormal
Agar tidak salah menilai, para wanita wajib dapat membedakan keputihan normal dan patologis (Mariana & Winarni, 2023):
- Normal: berwarna bening/putih, tidak berbau, tidak gatal, biasanya muncul menjelang menstruasi atau saat stres.
- Abnormal: berwarna kuning/hijau/abu-abu, berbau tidak sedap, disertai gatal/nyeri, keluar terus-menerus, dan sering menjadi tanda infeksi.
Memperoleh pengetahuan mengenai kondisi ini dapat membantu para wanita mengenali gejala keputihan yang dialami sehingga dapat menentukan tindakan apa yang harus diambil, apakah perlu ke tenaga medis atau melakukan pencegahan.
Pencegahan Melalui Personal Hygiene
Pencegahan keputihan tidak hanya bergantung pada pengetahuan, tetapi juga pada sikap, perilaku, dan pola hidup sehat (Kesuma & Putra, 2023). Beberapa langkah penting antara lain:
- Menjaga kebersihan vagina dengan air bersih, hindari cairan pembersih kimiawi.
- Memakai celana dalam katun yang bersih dan longgar.
- Mengeringkan vagina dengan benar (dari depan ke belakang).
- Mengurangi konsumsi gula berlebih yang dapat mengganggu flora normal Lactobacilli.
- Rutin menjaga kebersihan tubuh, termasuk mencukur rambut kemaluan secara teratur.
Kesimpulan
Keputihan bukan sekadar keluhan ringan. Jika diabaikan, kondisi ini berpotensi menjadi sinyal awal penyakit reproduksi serius. Oleh karena itu, edukasi sejak remaja mengenai personal hygiene, pola makan sehat, dan sikap peduli terhadap kesehatan reproduksi menjadi kunci pencegahan. Perempuan perlu berani mengenali perubahan tubuhnya dan segera mencari pertolongan medis bila mengalami gejala abnormal
Penulis: dr. Santoso Adi, Sp.OG. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Satya Wacana
Daftar Pustaka:
Agustine, P. P. (2023) Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Wanita Usia Subur (WUS) dengan Kejadian Flour Albus (Keputihan). Open Access Jakarta Journal of Health Sciences, Vol. 2 N0 12. DOI 10.53801/oajjhs.v2i12.216.
Eduwan, J. (2022). Gambaran Pengetahuan Tentang Keputihan pada Remaja Putri Kota Bengkulu. Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK), vol. 5 no. 1. DOI :10.33369/jvk.v5i1.22449
Fransiska, P., & Turiyani. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi keputihan (fluor albus) pada siswi kelas XI. Jurnal ‘Aisyiyah Medika, 9(2), 153–160.
Hasriani, St., dkk. (2023). HUbungan Perawatan Vulva Hygiene pada Wanita Usia Subur dengan Kejadian Flour Albus di Desa Mattirowalie Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru. Jurnal Satuan Bakti Bidan untuk Negeri (SAKTI BIDADARI) Vol. 6, No. 2. ISSN: 2580-2821.
Kesuma, E. G., & Putra, H. (2023). Hubungan pengetahuan dan gaya hidup dengan kejadian keputihan pada siswi SMA. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal, 13(4)
Mariana & Winarni. (2023). Pengaruh Air Rebusan Daun Sirih dalam Menurunkan Keluhan Flour Albus pada Wanita Usia Subur di Desa Serakat Jaya. Detector: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, Vol 1 No 4. DOI: https://doi.org/10.55606/detector.v1i4.2544
Sartika, S., Haruna, N., Setiawati, D., Rahim, R., & Hilal, F. (2025). Insidens Bacterial Vaginosis pada kehamilan di Puskesmas Tamangapa Makassar [Incidence of Bacterial Vaginosis in pregnancy at Tamangapa Health Center Makassar]. Jurnal Midwifery, 7(1). https://doi.org/10.24252/jmw.v7i1.50447
Sethi, N., Narayanan, V., Saaid, R., Ahmad Adlan, A. S., Ngoi, S. T., Teh, C. S. J., Hamidi, M., & WHOW research group. (2025). Prevalence, risk factors, and adverse outcomes of bacterial vaginosis among pregnant women: A systematic review. BMC Pregnancy and Childbirth, 25(1), 40. https://doi.org/10.1186/s12884-025-07144-8
Sinulingga, S., Jayanti, O. (2024). Pengetahuan dan SIkap Remaja Putri tentang Pencegahan Keputihan (Flour Albus) di SMA N 7 Kota Jambi. Prosiding Seminar Kesehatan Nasional, Vol. 3. E-ISSN 3031-8572.
Sulianty, A., Fitriana, N., & Azriani, L. L. (2020). Upaya pencegahan fluor albus pada remaja putri melalui penyuluhan dan demonstrasi. Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo, 2(1), 45–52. http://jkp.poltekkes-mataram.ac.id/index.php/pkse



